Kamis, 27 Agustus 2009

cerpen cinta : Luka disini

label:cerpen cinta,cerpen persahabatan

"Aku mencintaimu," kata ini meluncur dari seorang pemuda yang berpakaian rombeng dan belepotan kotor. Ia nyengir, seperti tak ada beban berkata seperti itu. Dan perempuan yang diajaknya bicara hanya cengar-cengir, menggerak-gerakkan tubuhnya yang terbalut kain kotor. Ia senyam-senyum, cengengesan dan mengulum ibu jarinya.
"A.....pa, akang mencintaiku," kata perempuan itu pelan dan lenjeh, "aku juga mencintai akang," lanjutnya.
Pemuda itu tersenyum, cengengesan, dan segera berlari. Aneh, tapi itulah yang selalu diperbuatnya. Ia lari kencang sekali, tak peduli. Lari tanpa arah, yang dibenaknya hanya ada kata: sungai. Dan, di sungai yang kotornya tak ketulungan pemuda itu menceburkan diri,"byuuuurrrrr"
"Ha...ha...ha....," rupa-rupa anak gelandangan yang melihat kejadian ini tertawa.
"Sungai inikan habis kita kencingi"
"Tadi, aku juga buang tahi"
"Orang gila itu hebat, berani mandi dengan kencing dan tahi kita"
Kata-kata anak gelandangan itu bersahutan. Menertawakan.
Pemuda itu tak peduli, terus mandi dan berenang ke tepian. Seterusnya ia mengusir anak-anak gelandangan itu.
"Dasar anak-anak gila, edan, gila...," teriak pemuda itu.
"Kamu yang gila, ceritanya lagi jatuh cinta...ha..ha..ha.." ledek anak-anak itu.

***
Di perkampungan kumuh itu, siapa yang tidak mengenal pemuda gila itu. Orang-orang memanggilnya pemuda gila. Tingkahnya yang selalu aneh semakin melegitimasinya sebagai pemuda gila; suka mandi di kali yang kotor, berteriak memanggil nama-nama perempuan, nyanyi-nyanyi sendiri, bicara sendiri semuanya sudah jadi kebiasaan setiap hari. Tapi, ada penghargaan terhadap pemuda gila itu, ia pintar, cerdas, dan dermawan sekalipun hidupnya sangat hina dan miskin. Jangan menyebutnya miskin, karena dalam dunia orang gila yang hina tak ada yang memikirkan harta, yang ada hanya pikiran mengisi perut untuk hari ini. Hebat, tak pernah memikirkan uang untuk jadi kaya.
Ceritanya pemuda gila itu lagi jatuh cinta. Sama siapa? Sama gadis gila yang biasa berkeliaran di jalan. Siapa namanya? Tidak tahu. Rumahnya? Juga tidak tahu. Di mana ketemunya? Di tepi jalan. Waktu itu, gadis gila itu lagi nyanyi-nyanyi dengan menggendong boneka. Di matanya boneka itu adalah anaknya.
"Mau ke mana, Neng?"
"Cari ayah, untuk anak ini"
"Emangnya siapa ayahnya?"
"Tidak tahu. Tapi, kamu kok mirip juga dengan pemuda yang memerkosaku dan mengambil anakku."
"Masak!"
"Iya bener, wajahmu, matamu, hidungmu, tubuhmu, iya mirip benar dengan orang yang kucari"
Sejak itu, pemuda itu merasa bangga dengan dirinya. Ia merasa lelaki, sebab ada perempuan yang mencari. Dan dia jatuh cinta, saban hari yang selalu dilakukannya adalah berkata tentang Cinta. Cinta. Cinta. Tak mengherankan bila sebagian teman-temannya yang gelandangan dan gila juga mengatakan ia semakin gila karena Cinta. He...he...he...
Pemuda itu terus berlari, anak-anak gelandangan mengikutinya di belakang.
"Hidup Cinta, hidup Cinta, hidup Cinta," teriak anak-anak itu layaknya suporter kesebelasan yang mendukung timnya bermain pertandingan sepak bola.
Di depan warung penjual es, semua berhenti. Dan, pemuda itu memesan es sejumlah dengan pengikutnya. Semua ditraktir es oleh pemuda gila itu. Asyik kan.
"Wah, hebat. Cinta itu hebat, ya. Bisa bikin kaya, buktinya si Gila ini mentraktir kita hanya karena Cinta," seru salah seorang anak.
Pemuda itu tersenyum. Nyengir. Bego.
"Cinta itu sebenarnya apa sih, Gila," tanya seorang anak pada pemuda gila itu.
"Cinta itu,...nanti dech kutunjukkan. Sekarang habiskan dulu es-nya."
Setelah selesai pesta es, pemuda gila itu berkata, "apa kalian pingin tahu, Cinta itu apa?"
Serentak anak-anak gelandangan itu menganggukkan kepala.
"Ayo, sekarang ikut aku. Akan kutunjukkan pada kalian Cinta itu apa," kata pemuda gila itu. Dan berlari. Semua anak mengikuti dengan perasaan penasaran. Di tepi jalan raya yang dipadati kendaraan pemuda gila itu berhenti. Anak-anak gelandangan itu mengikuti. Berhenti. Napas mereka tersengal-sengal. Kesal.
"Ayo, dong katakan Cinta itu apa, Gila?" kata salah seorang anak.
"Cinta itu tidak bisa dikatakan, tapi hanya bisa ditunjukkan," kata pemuda gila itu. Menegaskan.
"Kalau begitu tunjukkan dong, biar kita tahu Cinta itu apa?" tanya anak yang lainnya.
"Baiklah, lihat ini"
Pemuda itu segera berlari menyeberang jalan raya itu. Dan...
"Ha!"
Semua mata anak-anak gelandangan itu terbelalak. Gila, seru mereka dalam hati. Melotot, mereka tak percaya. Menyaksikan pemuda gila itu menabrakkan tubuhnya sendiri pada sebuah mobil yang melaju sangat kencang. Darah berhamburan membuncah. Tubuh pemuda gila itu berkeping-keping hancur. Pisah. Kepala pemuda itu menggelinding ke arah gerombolan anak gelandangan itu.
"Inilah Cinta," lirih kata kepala pemuda gila itu. Kemudian menutup matanya. Mati.
"Lari....!" seru salah seorang anak.
Mereka berhamburan pergi. Berlari dan salah seorang anak itu membawa kepala pemuda gila itu.
Di padang perkebunan yang luas anak-anak gelandangan itu berhenti. Napas mereka tersengal-sengal. Dan ingatan mereka terus terbayang kematian pemuda gila itu yang tragis.
"Itulah Cinta anak-anak, sama dengan kematian," kata ruh pemuda gila itu yang merasuk ke batin anak-anak gelandangan itu. Semua pikiran anak gelandangan itu sedang berkecamuk, menafsirkan arti Cinta yang tadi dijawab oleh pemuda gila itu dengan kematian.
Anak-anak, Cinta itu mati. Cinta itu mengorbankan nyawa. Cinta itu bunuh diri. Cinta itu membinasakan. Cinta itu memisahkan tubuh menjadi bagian-bagian kecil. Cinta itu sama dengan kematian. Ha...ha...ha...bisik ruh pemuda gila itu pada anak-anak gelandangan itu.
"Apa yang kau bawa"
"Kepala si Gila"
"Ha!"
Semua anak terperanjat kaget, melihat teman mereka yang membawa potongan kepala pemuda gila itu. Kepala itu diletakkan di tanah, sebagian anak-anak menutup matanya takut melihat potongan kepala pemuda gila itu yang masih segar dan berlumuran darah.
"Untuk apa kau bawa kepala pemuda gila itu?"
"Untuk kuberikan pada gadis gila itu"
"Maksud, kamu, pacar si Gila ini"
"Ya"
Semua mata anak-anak gelandangan itu menatap kepala pemuda gila itu. Tenang. Hening. Seperti sedang terjadi penghormatan atas kematian pemuda gila itu.

***
Di tepi jalan ramai, seorang anak kecil menyerahkan sebuah bungkusan plastik pada gadis gila itu.
"Ini untukmu, Gila"
"Hore..hore...ada anak edan ngasih hadiah padaku. Hore.."
"Dasar gila," gerutu anak itu seraya pergi. Berlari.
Di rumahnya yang kotor, berlantai tanah, berdinding kertas kardus dan beratap plastik gadis gila itu membuka bungkusan plastik itu. Darah tersegap. Berhenti sejenak, mata gadis gila itu membulat seperti bumi. Muka memerah dan air mata berurai. Tarikan napasnya mengisyaratkan tekanan batin yang luar biasa memilukan.
Seketika ia mengamuk, rumah kotornya diobrak-abrik dan dibakar, tak ayal api merambat cepat dan membakar seluruh isi perkampungan kumuh itu. Api membara melahap semua yang menghadang, dan ratusan orang berteriak-teriak minta tolong seraya berusaha memadamkan api dengan air. Tapi sia-sia, api kadung sudah gila pula.
Gadis gila itu lari. Hilang. Entah ke mana.
"Lihat, itu ada mayat, di tepi sungai" seru seorang anak gelandangan. Segera, teman-temannya melihat yang ditunjuk anak itu. Dan, semua kaget saat mengetahui kalau mayat itu adalah gadis gila pacar dari pemuda gila itu.
"Inikah Cinta, Gila" seru hati setiap anak gelandangan itu.

***
Masanya terus beranjak, kini usia anak-anak gelandangan itu bertambah dua puluh tahun. Mereka telah dewasa. Tapi, aneh tak satu pun di antara mereka yang mau menikah atau pacaran. Kenapa? Mereka bilang takut dengan Cinta. Kenapa? Cinta itu Gila. Maksudnya? Dua manusia Gila itu telah mengajari Cinta, sungguh Cinta itu benar-benar Gila. Mematikan. Mereka tak mau mati. Tapi, apa kalian tidak melihat ibu-ibu kalian yang selalu resah menantikan kehadiran cucu, demi kelangsungan hidup manusia-manusia gila. Dunia perlu ekosistem, ada yang mulia, harus ada juga yang hina! Ha, apa benar, kita harus bagaimana?

cerpen cinta :Luahan sekeping hati

label:cerpen cinta,cerpen persahabatan

Huh… Entah mengapa tiba-tiba jiwaku bagai di pukul… Aku merintih sendirian.. Entah mengapa di suasana petang sebegini aku harus melawan kesakitan yang melanda jiwaku… Jika benar luka itu masih bersisa… Maka aku harus segera melenyapkan semua memori duka…. Sebak rasa dadaku menahan keperihatan sebegini… Aku hanya mampu memandang, menanti dan menunggu sampai bila aku harus menerima semua ketentuan yang diperuntukkan buatku… Kadangkala aku rasa tidak adil untuk aku bernafas di bumi ini, namun segera aku menyedarkan diri aku sendiri, bahawa setiap kesakitan yang Allah sediakan untukku hanyalah untuk menguji sejauh mana keimanan aku.. Segera aku mengucap.. Ah… Tenang sekali melafaz dua kalimah syahadah..Terasa lapang dadaku….

Aku sendiri tidak tahu entah dimana aku harus mulakan, aku tidak tahu mengapa tiba-tiba hati ini di sentuh duka semalam… Aku sudah berupaya untuk melupakan semua kesakitan yang diberikan, namun dengan tiba-tiba, perasaan itu hadir kembali… Bayangan semalam bagaikan memaksa aku merintih sendiri… Aku jadi rindu pada kenangan lama dan aku begitu sayu sekali bila mengenangkan sekeping hati yang telah di hancur lumatkan oleh sorang insan yang bergelar kekasih… Sudah puas air mata ini mengalir di pipi… Sudah reda bengkak yang bernanah di hati ini, sudah surut dendamku, sudah puas aku memujuk diri… Namun mengapa tetiba bayangan semalam menghembat perasaanku hingga bergenang airmataku…. Ahh… ku sapu airmata yang hampir mengalir, aku tidak mahu ianya mengalir dipipi ini untuk kesekian kalinya… biarlah ku simpan airmataku ini untuk kegembiraan… Puas sudah ku meratapi sebuah nasib yang diperuntukan buatku… Sehingga kehari ini aku masih lagi mampu untuk terus bersabar dengan setiap kelukaan demi kelukaan… Hati ini bagaikan sudah menjadi lali untuk kesakitan, kelukaan, penindasan, ketandusan!!! ah!! Sungguh… Sebenarnya aku tidak mampu lagi untuk meratapi sebuah lagi kelukaan… biarlah pengalaman lalu berlalu bagai angin… Sungguh!! aku sudah tidak mampu lagi, aku sudah tidak kuat lagi untuk memikul bebanan duka.. Meyesal??? ah… langsung tidak terbetik di hatiku, kerana aku sendiri yang memutuskan jalan hidupku,. Untuk apa aku menyesal, kerana semuanya kehendak Tuhan… Cuma apa yang aku harapkan… moga ada sinar kebahagiaan buatku…..

cerpen cinta:Cinta jarak jauh melulukan hati

label:cerpen cinta,cerpen persahabatan

Kisah ini kisah benar dan sangat sesuai dibaca oleh pasangan yang sedang bercinta pada jarak jauh. Kepada kaum Hawa berhati-hatilah dalam percintaan dan kaum Adam janganlah mengambil kesempatan ke atas kelemahan kaum Hawa. Hargailah orang yang anda sayang. Bacalah coretanku ini….)

Aku seorang wanita yang hanya dikenali dengan nama Jue oleh rakan – rakanku dari dulu hingga kini. Aku adalah satu – satunya perempuan dalam adik-beradikku yang seramai 6 orang. So tidak mustahil aku berperwatakan seperti seorang lelaki. Sebelum aku menjejakkan kaki ke alam sekolah menengah, aku tidak pernah menjiwai ciri-ciri seorang perempuan dan juga tidak pernah mempunyai kawan rapat yang sejantina denganku.

Tapi segala-galanya berubah apabila aku berpindah memasuki sekolah berasrama penuh di Melaka pada tingkatan 1. Aku seperti terkena kejutan budaya kerana pelajar – pelajar di situ tidah bergaul antara lelaki dan perempuan. Dari situ aku belajar untuk berkawan dengan perempuan.

Persekitaran sekolahku membuatkan aku menjadi seorang perempuan dan paling membuatkan aku betul-betul tidak percaya ialah aku semakin janggal untuk berkawan atau bercakap dengan insan bergelar lelaki. Aku semakin kurang bersosial seperti dulu. Satu berubahan yang sangat menakjubkan dalam diriku.

Aku seorang yang suka memerhati dan membuat kesimpulan sendiri untuk diriku. Sepanjang aku berkawan dengan perempuan, aku sering mendengar kisah-kisah yang menyedihkan tentang percintaan mereka. Sebelum ini aku memang tidak pernah melibatkan diri dengan percintaan dan aku menyimpulkan bahawa lelaki sanggup bersusah payah memikat hati perempuan apabila mereka menginginkan perempuan tersebut. Tetapi setelah mendapatkannya, lelaki selalu membuat perempuan menangis secara sengaja atau tidak sengaja. Mereka ibarat tidak menghargai perempuan yang mereka idam-idamkan dahulu. Bagiku mana-mana lelaki semuanya sama sahaja. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak bercinta sehinggalah aku melangkah ke alam perkahwinan. Aku mengimpikan sebuah percintaan selepas berkahwin yang sangat romantis seperti yang dialami oleh ayah dan ibuku. Aku berharap agar impianku menjadi kenyataan dan ia telah menjadi prinsip hidupku. Dengan prinsip yang aku cipta itu, aku telah menolak permintaan lelaki yang ingin menjadikan aku kekasihnya.

Tetapi aku sebagai manusia hanya tahu merancang, Allah yang menentukan segala-galanya. Ingin dijadikan cerita, aku sangat membenci seorang lelaki bernama Haikal yang merupakan classmate aku dari tingkatan 1 hingga 5 ketika di sekolah menengah. Dia selalu mengusikku sehingga membuatku naik angin. Aku sangat membencinya sehingga aku tidak boleh mendengar suaranya, apatah lagi melihat mukanya yang sememangnya tidaklah sekacak Norman Hakim.

Tetapi Allah Maha Kuasa. Memasuki tingkatan 5, aku dan Haikal menjadi akrab. Tetapi kami hanya berkawan rapat di dunia ‘sms’ sahaja. Apabila di kelas, kami seperti tidak kenal antara satu sama lain. Sepanjang persahabatan, dia sering memberi ‘hint’ yang dia ingin menjadikan aku lebih dari seorang kawan. Tapi aku sering mengatakan yang aku hanya ingin bercinta selepas berkahwin. Kata – kataku itu membuatkan dia kecewa. Walaupun dia berasa seperti tiada harapan untuk bersamaku, tetapi dia tidak pernah meninggalkanku walau sesaat pun dan terus berusaha untuk mendapatkan aku dengan apa jua cara sekalipun.

Selama 2 tahun persahabatan kami, aku melihat dia benar-benar ikhlas untuk berkawan denganku. Ahkirnya aku memutuskan untuk menerimanya sebagai ‘couple’ku apabila dia betul-betul meluahkan isi hatinya pada 1st January 2008 dengan berkata “Jue, aku cintakan kau”.. Bermulalah kisah baru antara aku dan Haikal. Percintaan ini merupakan kisah cinta pertama dalam hidupku selama aku berusia 20 tahun dan aku berharap ia akan berkekalan sehingga akhir hayatku.

Seperti biasa di awal-awal percintaan, segalanya berjalan dengan lancar. Selepas dua tiga bulan, pergaduhan sering terjadi antara aku dan dia, sehingga aku berasa menyesal menerimanya dulu. Paling menyakitkan hatiku, Haikal malu untuk mengaku aku sebagai kekasihnya kerana takut di gelar sebagai ‘mamat jiwang’ oleh rakan-rakan sekuliahnya. Bila aku bertanya kenapa mahu berselindung? Haikal menjawab dia belum bersedia untuk orang mengetahui kisah cinta kami. Selain itu juga, Haikal lebih mementingkan rakan – rakannya dalam segala aspek sehingga aku berasa seperti tidak di perlukan lagi. Pernah satu ketika, Haikal meminta izin untuk meninggalkan aku di Plaza Low Yat keseorangan setelah dia terjumpa rakannya di situ juga.

Inikah CINTA?? Inikah layanan dia terhadapku setelah dia bersusah payah mendapatkan aku?? Aku begitu tidak menyangka bahawa dia melayanku sebegitu kerana sebelum kami bercinta, dia begitu baik melayanku bagaikan seorang lelaki yang berkomitmen tinggi terhadap perempuan. Sampai hati dia melakukan seperti itu terhadapku… Bermacam-macam lagi pergaduhan yang kami alami. Aku benar-benar terasa seperti tiada nilai di matanya. Kadang – kala aku terasa seperti dipermainkan olehnya.

Haikal yang aku kenali memang seorang yang sosial. Tetapi dia pernah berjanji padaku yang dia tidak akan meninggalkan aku dan dia ingin menjadikan aku sebagai isterinya. Dia juga berkata bahawa akulah cinta pertama dan terakhir bagi Haikal. Tetapi di sebabkan dia yang sangat sosial, dia sering melukakan hatiku. Bagi Haikal, dia tidak sanggup melihat aku mempunyai kawan lelaki walau seorang. Tetapi dia tidak pernah sedar yang dia mempunyai ramai kawan perempuan yang seksi-seksi dan sering bertepuk tampar diantara mereka. Haikal memang manusia jenis pentingkan kawan-kawan daripada keluarganya sendiri dan juga aku. Aku sering menangis memikirkan semua ini. Haikal!! Kau sangat kejam terhadapku!!

Setelah 5 bulan percintaan aku dan Haikal, kini Haikal terpaksa perpisah denganku gara-gara dia ingin melanjutkan pelajaran ke United Kingdom. Apabila aku mendengar berita tersebut, aku benar-benar risau dan sedih. Kini tercipta satu kisah baru iaitu percintaan jarak jauh antara aku dan Haikal. Ya Allah…begitu besar dugaan aku setelah aku melanggar prinsipku sendiri untuk tidak bercinta sehingga aku berkahwin. Adakah ini balasan bagiku?? Walaupun kami sering bergaduh, tetapi aku terlalu sayang terhadapnya dan aku tidak sanggup berpisah dengannya….oh tidak….bolehkah aku dan dia mengekalkan percintaan ini walaupun kami berjauhan??

Di awal percintaan jarak jauh ini, kami sering berhubung melalui e-mail,friendster dan juga ‘sms’. Sekali sekala ada juga Haikal menelefonku. Aku berasa gembira kerana dia selalu mengingati aku walaupun kami berjauhan… Kami juga jarang bergaduh ketika itu. Ya Allah, bahagianya aku..

Ku sangkakan panas hingga ke petang, rupa-rupanya hujan di tengah hari. Sudah sebulan lebih Haikal di negara orang. Walaupun dia berjauhan denganku, pergaduhan terjadi juga antara aku dan Haikal. Apa yang aku risaukan benar-benar terjadi. Dia menjadi semakin sosial dan jarang membalas semua e-mail dan komen di friendster yang aku kirimkan padanya. Pada mulanya aku fikir kemungkinan Haikal busy. Tetapi semakin lama semakin pelik aku di buatnya. Haikal terus-menerus menyepi diri tanpa khabar berita. Aku semakin risau. Aku cuba menelefonnya tetapi tidak pernah berjawab, apatah lagi sms. Tidak pernah di balasnya walau sekalipun. Hanya Allah yang tahu betapa sedihnya aku.

4 bulan Haikal menyepikan diri dariku. Tiba-tiba aku tergerak hati ingin menelefonnya menggunakan nombor adikku di pagi raya yang lalu pada 1st October 2008. Setelah menunggu akhirnya berjaya juga aku menembusi taliannya. Tapi hatiku bagai dirobek-robek kerana yang menjawabnya suara seorang wanita dan bila ku tanya apa hubungan dia dengan Haikal, dengan bangganya dia mengatakan dia kekasih Haikal dan sedang mengandungkan anak Haikal tanpa sebarang ikatan perkahwinan. Menurutnya, Haikal ingin wanita itu melahirkan anak dalam kandungannya dan Haikal bakal mengahwini wanita tersebut yang membahasakan dirinya sebagai Jiha. Aku hampir pengsan mendengar kata-kata Jiha..Ya Allah….. Inikah namanya cinta? Inikah akibatnya aku melanggar prinsipku dahulu?? Haikal, sampai hati awak buat semua ini pada saya. Apa salah saya terhadapmu. Cepatnya awak berubah, sedangkan percintaan kita belum cukup setahun.

Di pagi raya itu juga aku menangis memikirkan apa yang telah terjadi padaku. Aku serik dengan percintaan ini. Mulai saat itu, aku telah menutup hatiku untuk semua lelaki. Aku kecewa dengan percintaan yang baru pertama kali aku lalui. Inilah percintaan pertama dan terakhirku. Haikal, aku tidak akan maafkan apa yang kau lakukan padaku. Inikah balasannya setelah aku begitu setia padamu? Inikah hadiah yang kau berikan padaku setelah aku tewas dengan pujuk rayumu di saat kau menggodaku dulu? Kini benarlah apa yang aku pernah katakan dulu bahawa lelaki sanggup bersusah payah memikat hati perempuan apabila mereka menginginkan perempuan. Tetapi setelah mendapatkannya, lelaki suka membuat perempuan menangis secara sengaja atau tidak sengaja dan mereka tidak pernah menghargai perempuan yang mereka idam-idamkan. Lelaki memang serupa. Hanya pandai mengayat. Haikal!! Aku tak akan maafkan kau. Aku tidak dapat melupakan apa yang terjadi ke atas diriku ini. I hate u forever and ever Haikal!!! I HATE YOU!!!

Ya Allah.. maafkan segala kesilapanku yang lalu. Aku menyesal dengan apa yang telah terjadi. Walaupun aku telah kehilangan Haikal, orang yang benar – benar aku sayang dan percaya, aku tidak akan sesekali menzalimi diriku sendiri. Akan aku buktikan bahawa aku boleh hidup tanpa Haikal bukan hanya 2 3 saat, tetapi untuk selama – lamanya. Dan aku akan buktikan bahawa aku boleh mendapatkan lelaki yang lebih berguna dari Haikal. Tiada guna aku mengharap pada lelaki seperti Haikal. Aku akan membenci Haikal seumur hidupku dan aku tidak akan memaafkannya.. Haikal adalah racun dalam hidupku untuk selama – lamanya……

Kepada rakan – rakan yang sedang hangat bercinta, hayatilah kata – kata ini…

Berkawan tidak semestinya bercinta,
Bercinta tidak semestinya bertunang,
Bertunang tidak semestinya berkahwin,
So, jangan mengharap pada sesuatu yang tiada kepastian lagi.
Kerana seandainya apa yang anda harapkan tidak tercapai,

Ia mungkin akan melukakan hati dan melemahkan semangat anda untuk terus hidup..

cerpen cinta : kisah cinta sejati

label:cerpen cinta,cerpen persahabatan

Namaku Linda dan aku memiliki sebuah kisah cinta yang memberikanku sebuah pengajaran tentangnya. Ini bukanlah sebuah kisah cinta hebat dan mengagumkan seperti dalam novel-novel romantis, tetapi tetap bagiku ia adalah kisah yang jauh lebih mengagumkan dari semua novela tersebut.

Ini adalah kisah cinta ayahku, Mohammed Huda Alhabsyi dan ibuku, Yasmine Ghauri. Mereka bertemu di sebuah majlis resepsi pernikahan dan kata ayahku dia jatuh cinta pada pandangan pertama ketika ibuku masuk ke dalam ruangan. Saat itu dia tahu, inilah wanita yang akan dikahwininya. Ia menjadi kenyataan dan mereka telah bernikah selama 40 tahun dengan tiga orang anak. Aku anak sulung, telah berkahwin dan memberikan mereka dua orang cucu. Ibu bapaku hidup bahagia dan selama bertahun-tahun telah menjadi ibu bapa yang sangat baik bagi kami, membimbing kami dengan penuh cinta kasih dan kebijaksanaan.

Aku teringat suatu hari ketika aku masih berusia belasan tahun. Beberapa jiran kami mengajak ibuku pergi ke pembukaan pasaraya yang menjual alat-alat keperluan rumah tangga. Mereka mengatakan hari pembukaan adalah waktu terbaik untuk berbelanja barang keperluan kerana barang sangat murah dengan kualiti yang berpatutan.

Tapi ibuku menolaknya kerana ayahku sebentar lagi akan pulang dari kerja. Kata ibuku,”Ibu tak akan pernah meninggalkan ayahmu sendirian”.

Perkara itu yang selalu ditegaskan oleh ibuku kepadaku. Apapun yang terjadi, sebagai seorang wanita, aku wajib bersikap baik terhadap suamiku dan selalu menemaninya dalam keadaan apapun, baik miskin, kaya, sihat mahupun sakit. Seorang wanita harus menjadi teman hidup suaminya. Banyak orang tertawa mendengar hal itu. Menurut mereka, itu hanyalah lafaz janji pernikahan, omongan kosong belaka. Tapi aku tetap mempercayai nasihat ibuku.

Sampai suatu hari, bertahun-tahun kemudian, kami sekeluarga mengalami berita duka. Setelah ulang tahun ibuku yang ke-59, ibuku terjatuh di kamar mandi dan menjadi lumpuh. Doktor mengatakan kalau saraf tulang belakang ibuku tidak berfungsi lagi, dia harus menghabiskan sisa hidupnya di pembaringan.

Ayahku, seorang lelaki yang masih sihat di usia tuanya. Tetapi dia tetap setia merawat ibuku, menyuapinya, bercerita segala hal dan membisikkan kata-kata cinta pada ibu. Ayahku tak pernah meninggalkannya. Selama bertahun-tahun, hampir setiap hari ayahku selalu menemaninya. Ayahku pernah mengilatkan kuku tangan ibuku, dan ketika ibuku bertanya ,”Untuk apa kau lakukan itu? Aku sudah sangat tua dan hodoh sekali”.

Ayahku menjawab, “Aku ingin kau tetap merasa cantik”.

Begitulah pekerjaan ayahku sehari-hari, merawat ibuku dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.

Suatu hari ibu berkata padaku sambil tersenyum,”Kau tahu, Linda. Ayahmu tak akan pernah meninggalkan aku…kau tahu kenapa?”

Aku menggeleng, dan ibuku berkata, “Kerana aku tak pernah meninggalkannya…”

Itulah kisah cinta ayahku, Mohammed Huda Alhabsyi dan Ibuku, Yasmine Ghauri, mereka memberikan kami anak-anaknya pelajaran tentang tanggungjawab, kesetiaan, rasa hormat, saling menghargai, kebersamaan, dan cinta kasih. Bukan dengan kata-kata, tapi mereka memberikan contoh dari kehidupannya.

cerpen cinta : Hanya seketika

label:cerpen cinta,cerpen persahabatan

Sebuah kereta Honda City hitam membelok masuk ke sebuah tapak perkuburan yang tertera nama Taman Barzakh. Lelaki yang berbaju Melayu berwarna krim itu keluar dari keretanya berjalan lemah menuju ke tempat orang yang pernah dibencinya dulu berada. Dia mencangkung mencabut rumput yang tumbuh di atas pusara di hadapannya. Dia duduk dan membaca Surah Yaasin dengan suara tersekat-sekat sambil membiarkan air matanya mengalir di pipi.

Dalam dunia ini, Fariz hanya pertaruhkan dua perkara. Duit dan nyawa. Duit untuk memikat perempuan dan nyawa untuk melindungi dirinya. Cinta? Apa dia peduli, membosankan baginya! Itulah sebab mengapa dia sering bertukar pasangan di ranjang hotel atau rumah sewanya. Baginya had cinta untuk seorang perempuan hanya seminggu tidak lebih dari itu.

Malah dalam komuniti kelab malam, dialah raja dan playboy yang paling popular dan mendapat perhatian ramai wanita yang datang sama ada hanya sekadar untuk berhibur atau merasai nikmat bersama dengannya. Hukum agama? Halal haram sedikit pun dia tak peduli. Baginya hidup ini hanya sekali, jadi bergembiralah sepuas-puasnya. Taubat? Jawapan Fariz cukup mudah, tunggu bila dah tua atau senja nanti tapi Fariz tidak sedar yang rumahnya telah kata pergi dan kuburnya telah kata mari.

“Fariz, ayah rasa kau dah patut mendirikan rumahtangga sekarang” Soalan yang paling bosan dan malas untuk dijawabnya, kembali disuarakan oleh ayahnya pada malam dia ingin keluar enjoy seperti biasa.

“Siapa orangnya?” tanya Fariz acuh tak acuh. Kali ini sudah kali keenam belas ayahnya bertanya tentang hal mendirikan rumahtangga. Dia menghenyakkan punggungnya di sofa sebelah orang tuanya.

“Anak mak cik Zainab kamu, Zainah.” Jawab ayahnya menunggu reaksi Fariz yang diagak akan menunjukkan reaksi protes dan bengang dijodohkan dengan gadis yang sentiasa dibulinya semasa zaman kanak-kanak.

Terjegil mata Fariz mendengar nama itu. “Ustazah Sekolah Agama tu ayah nak saya jadikan bini?? Tak layak langsung dengan saya tetapi kalau ayah berkehendakkan juga saya terima.” Jawab Fariz bersetuju walaupun sebenarnya dia tidak rela beristeri sekarang.

Dia bangun meninggalkan ayahnya selepas mengambil kunci kereta di atas meja depan ayahnya. Destinasinya hanya satu, kelab malam mencari perempuan untuk menghilangkan keresahan di hatinya yang semakin mencengkam.

Ayahnya menarik nafas lega dengan persetujuan Fariz walaupun dia kelihatan tidak serius menyatakan persetujuannya untuk berkahwin dengan sepupu sendiri. Ayahnya berharap Fariz akan berubah menjadi seorang lelaki dan suami yang baik selepas berkahwin dengan Zainah selepas ini.

Selepas beberapa bulan berlalu….

“Woi!!! Zainah! Buka pintu!” Hik..hik..hik…sedu Fariz, “Woi!!! Zainah! Buka pintu!”

Fariz mengetuk-ngetuk daun pintu rumahnya tanpa henti. Zainah bergegas berlari menuruni tangga dan keluar untuk membuka pintu. Sebaik sahaja pintu dibuka, botol warna hujau di tangan kanan Fariz dihayunkan ke kepala Zainah.

“Lembab! Bodoh! Pekak! Bahlol! Senggal!!” Maki Fariz dalam keadaan mabuk. Dia terus berjalan terhayun hayang menuruni tangga dan terus terjatuh tidak sedarkan diri di ruang tamu rumah agam mereka.

Zainah mengesat darah yang mengalir melalui luka di dahinya sebelum mengangkat Fariz masuk ke dalam bilik. Air jernih dari matanya dibiarkan mengalir bebas menuruni pipi gebunya. Dia menabahkan hati demi insan yang disayanginya sekarang.

Walau seburuk mana pun perangai Fariz, lelaki itu adalah suaminya. Suami yang akan dicintai sepenuh hati dari dunia hingga akhirat. Dia tanamkan dalam dirinya bahawa berkasih sayang itu adalah suatu akhlak yang mulia, lalu semai dan bajaikan rasa kasih sayang dan cinta terhadap sesama insan, lebih-lebih lagi kepada Allea S.W.T kerana hanya DIA yang terlalu kasihkan hamba-Nya lebih dari seorang ibu yang mengasihi anaknya. Dia hanya akan taat pada suaminya itu seorang selagi hayatnya masih ada untuk hidup di dunia ini di sisi Fariz. Dia akan berbakti dengan sepenuh hati dan rela walaupun tidak dihargai dan dianggap kain buruk dalam rumah itu bagi suaminya.

Walaupun Fariz sering membawa perempuan yang di jumpanya di kelab malam pulang ke rumah untuk berseronok, dia terima dengan hati yang terbuka walaupun pedih kenyataannya. Malah dia berdoa semoga Fariz akan berubah menjadi seorang lelaki yang baik dan bertanggungjawab selepas mendapat hidayah dari-Nya.

Malam itu, Fariz pulang ke rumah dalam keadaan mabuk seperti kebisaanya bila pulang dari kelab malam. Zainah yang mengandung 8 bulan terpaksa berjalan perlahan-lahan untuk membuka pintu yang diketuk bagai nak roboh oleh suaminya.

Geram pintu masih belum dibuka, Fariz menendang pintu rumahnya. Zainah yang telah membuka sedikit daun pintu itu mengagak Fariz akan bertindak kasar kerana lambat membuka pintu cuba dan dia cuba mengelak tapi tergelincir jatuh. Kepalanya terhentak ke lantai marmar. Darah merah pekat mengalir keluar dari kepala dan kain batik Zainah yang telah terbaring kesakitan di atas lantai rumah.

Fariz yang agak mamai, tersedar yang dia telah menendang isterinya sendiri secara tidak sengaja. Dia mengelabah dan terus ke bilik air untuk mencuci muka dan minum banyak air kosong agar mabuknya sedikit berkurang. Fariz terus keluar dan mengangkat Zainah masuk ke dalam kereta menuju ke hospital.

Dalam perjalanan munuju ke hospital, Zainah mengerang kesakitan. Bertambah takut, risau dan gelisah hatinya kerana dialah Zainah jadi begitu. Setibanya di hospital Zainah terpaksa di masukkan ke Unit Rawatan Rapi kerana kecederaan parah di kepala dan kandungannya dalam keadaan bahaya yang kemungkinan gugur. Fariz menghubungi ayahnya dan ibu mertuanya. Ayahnya inginkan penjelasan saat itu juga tapi pantas Fariz matikan talian.

Sampai di hospital ayahnya ingin memarahinya selepas mendapat penjelasan tetapi melihat wajah anaknya yang keletihan, sungul dan resah dia tidak jadi marah. Fariz tersandar di bangku hospital dan hanya memandang bilik pembedahan menunggu doktor keluar dengan hati yang resah. Fariz menangis tersedu-sedu dan satu persatu perbuatan kejamnya terhadap Zainah menerjah ke dalam kotak fikirannya. Zainah dipukul, diterajang, dimaki, tidak dihormati dan yang paling kejam Fariz sanggup menerajang Zainah yang sedang sarat mengandungkan zuriatnya tanpa disedari.

Fariz melangkah masuk ke rumah agam yang dihadiahkan ayahnya sempena perkahwinannya dengan Zainah setahun lalu dengan perlahan-lahan. Setiap sudut rumah itu terdapat kenangannya bersama Zainah. Dia menuju ke dalam kamar tidurnya. Sebelum duduk di birai katil, Fariz memandang sayu potret persandingannya dengan Zainah di meja sisi katil. Dia duduk dan mengambil prime gambar tersebut dan memeluknya erat ingin merasai kehadiran Zainah disisinya kembali.

Gambar persandingannya dengan Zainah yang disangkut di dinding di depan matanya direnung dalam-dalam mencari kembali kenangan yang memedihkan hati tapi membuatkannya kembali merasai kehadiran insan kesayangannya yang telah pergi.

Dia terperasan terdapat sesuatu di belakang potret itu lalu dia berjalan dan menurunkan gambar tersebut. Sampul surat bersaiz A4 jatuh di kaki Fariz lalu gambar tersebut digantung kembali ke dinding. Hatinya terdetik untuk membacanya walaupun perasaannya tidak senang dan hati berdebar-debar sewaktu dia menarik keluar isi sampul surat berkenaan.

Test report yang tertera nama isterinya membuatkan hatinya semakin sakit untuk terus membacanya tetapi dia kuatkan semangat untuk terus membaca. Perkataan kanser tulang membuatkan dia terus meremukkan kertas test report itu. Fariz seperti orang hilang akal mencampakkan segala yang ada berhampiran dengannya. Dia menjerit bagai orang gila lalu terduduk lemah dilantai kamarnya. Dia mengesat air matanya yang mengalir umpama empangan yang pecah.

“Kenapa? Kenapa? Kenapa mesti begini?” Fariz menjerit menanyakan soalan yang tiada itu jawapan pada dirinya.

Dia ternampak sebuah kaset yang tertera namanya di bawah barang-barang yang bersepah di sekelilingnya. Fariz membelek kaset tersebut lalu bangun dan memasangnya. Suara Zainah yang serak seakan selepas menangis memenuhi ruang bilik itu.

“Abang, pertama sekali Nah minta maaf dari dunia hingga akhirat dan minta abang halalkan makan minum Nah sepanjang Nah hidup bersama dengan abang. Nah tahu, Nah bukanlah isteri abang yang baik dan bukan gadis yang abang cintai dan kasihi. Nah tahu abang terpaksa berkahwin dengan Nah tapi semua itu telah pun berlalu.

Nah tetap gembira dan bahagia berada disisi abang walaupun mungkin tidak lama Nah akan berada disisi abang. Walaupun abang layan Nah dengan buruk seperti kain buruk tapi Nah maafkan segala kesilapan abang sebab Nah tahu manusia mana tidak melakukan kesilapan. Kesilapan abang hanya kesilpan yang kecil malah ada orang yang membuat kesilapan yang lebih besar daripada abang yang sepatutnya tidak layak mendapat kemaafan tetapi tetap mendapat kemaafan.

Hanya ini satu-satunya permintaan Nah dengan abang. Nah harap abang jagalah anak kita yang bakal lahir nanti dengan sebaiknya andainya Nah pergi buat selama-lamanya. Abang mesti jaga diri abang dengan baik dan hidup dengan gembira walaupun Nah telah tiada di sisi abang buat selama-lamanya..

Sekali lagi Nah mohon keampunan dari abang dan halalkan makan minum Nah selama ini. Maafkan Nah andai Nah pernah sakiti dan lukai hati abang. Maafkan segala dosa Nah dengan abang. Jaga diri dan anak kita dengan baik.. Maafkan Nah…”

Fariz menekup wajahnya dengan tapak tangan. Dia menagis terharu dengan kata-kata terakhir yang Zainah ucapkan. Dia tidak menyangka isterinya sanggup memaafkan segala kesilapannya yang orang lain sukar maafkan. Indah sungguh susunan katanya dan cantiknya hatinya kerana sanggup menerima dan memaafkan kesilapannya.

Dia menarik nafas menguatkan hatinya yang terluka kerana kehilangannya. Dalam hatinya, Fariz berjanji akan menjaga Azril Fashah dan Zulaikha Balkis dengan baik kerana itulah wasiat Zainah yang terakhir. Fariz mengambil dairinya di dalam laci dan menulis apa yang tersirat di hatinya.

Ketika hayatnya aku lepaskan semua peluang untuk membuatkan dia bahagia dan gembira apabila berkahwin dengan aku tapi apa yang aku berikan padanya adalah kesedihan dan kesensaraan yang terlalu hebat yang aku fikir tiada orang yang sanggup laluinya tapi dia cukup tabah dan cekal untuk menawan hati aku yang keras dan menyucikan hatiku yang hitam ini selain mencelikkan aku yang buta agama dan cinta ini.

Pemergiannya membuatkan aku sedar yang dia amat berharga dalam diri, jiwa, hati dan hidupku. Bodohnya aku menyakiti orang yang terlalu menyayangi dan menyintai aku…dia ajar aku banyak perkara terutama tentang cinta dan hidup ini. Kalaulah aku diberi peluang sekali lagi, aku sanggup menggantikan tempatnya yang akan pergi mengadap Illahi tidak lama lagi itu. Aku hanya dapat merasakan bertapa aku terlalu menyintainya setelah dia pergi yang perginya tak akan kembali lagi. Biarlah aku jumpa seribu pengganti, dia tetap yang satu di dalam hati.

Kini apa yang aku dapat lakukan hanyalah mencatatkan segala kenangan bersamanya di dada langit dan kata cintaku padanya di atas pusaranya. Aku sentiasa menyakiti hatinya tapi dia tidak pernah menunjukkan reaksi sakit hatinya. Dia terlalu tabah…terlalu tabah…aku walaupun aku terus menerus menyakiti hatinya dan mengabaikannya tanpa aku sedar yang dia akan meninggalkan aku buat selama-lamanya. Aku perlukan sedikit masa untuk merawat hatiku yang terluka..

Fariz menutup dairinya perlahan-lahan. Cinta membuatkan dia amat lemah tapi cinta jugalah yang membuatkan dia bersemangat. Cintanya pada Zainah yang tidak sempat dihulur dan diucapkan sekarang akan dihulurkan pada permata hatinya yang mengikat hati dan menghidupkan perasaanya terus pada Zainah. Semoga rohmu dicucuri rahmat dari-Nya, Zainah.

cerpen cinta : karna kau mata hati ku


label :cerpen cinta,cerpen persahabatan

Hari ini aku pulang dari kerja agak awal dari biasa. Memandangkan hari masih awal, aku mengambil kesempatan untuk berjalan-jalan di sekitar ibu kota. Sekadar melepaskan penat bekerja seharian. Hmm…sudah lama aku tidak berkesempatan mengambil angin seperti petang ini. Seronok pula rasanya walaupun manusia sentiasa memenuhi segenap ruang disana sini. Sedang aku leka melihat barang-barangan yang dijual di sekitar Masjid India, aku terlihat sekumpulam manusia sedang leka berkerumun melihat sesuatu. Pastinya sesuatu yang menarik!

Terdetik juga dihati ini ingin melihat apakah yang melekakan mereka semua sehingga langsung tidak berganjak dari tempat mereka berdiri. Entah mengapa hatiku semakin kuat meronta-ronta ingin melihat apabila orang ramai yang mengerumuni bertepuk tangan. Seolah-olah mereka sedang melihat ahli silap mata membuat magic. Aku juga pelik dengan perasaanku yang tiba-tiba ini. Mungkin ianya sesuatu yang menarik? Mungin juga…siapa tahu.

Ketinggian yang ku miliki langsung tidak membantu ku melihat. Puas ku cuba berasak-asak dengan mereka yang lain. Harapanya dapatlah ku kehadapan bagi melihat dengan jelas lagi ‘panorama’ didepan sana. Namun, hanya bau-bauan yang tidak tertahan menghidangi hidungku ini. Masam…masin… manis…semua ada!

Tidak mahu mengalah, aku bergerak ke sebelah kanan pula. Ya! Dari sini aku nyata boleh melihat dengan jelas. Namun apa yang terpampang dihadapanku hanyalah perkara biasa… seorang pelukis jalanan yang sedang tekun melukis potret seorang wanita. Dikelilingnya juga penuh dengan lukisan potret pelbagai wajah.

Memang tidak disangkal, lukisan-lukisan nya semua tampak hidup. Cantik! Tapi apa yang dipelikkan? Di sekitar bandar raya ini juga setahu ku terdapat ramai lagi pelukis jalanan. Namun, tidaklah terlalu mendapat perhatian seperti pemuda ini.

Apa istimewanya lelaki ini? Adakah wajahnya kacak sehingga meraih perhatian? Tapi serasaku tidak logik pula. Kalau benar pun pemuda itu terlalu kacak, pastinya dia hanya mendapat perhatian gadis-gadis saja. Namun kini bukan saja para gadis, ‘mak-mak’ dan ‘bapa-bapa’ juga turut setia melihat.

Takkan orang KL tak pernah tengok orang melukis potret??? Ada baca ayat ‘guna-guna’ ke??? Alamak…terlebih sudah! Hehehe. Aku cuba mengintai wajah pemuda itu tapi gagal kerana kedudukannya membelakangi ku. Yang kelihatan hanyalah lukisan potretnya yang hampir sempurna siap.

Selagi aku tidak melihat wajah pemuda itu dan keistimewaanya, hatiku ini tidak akan puas. Mungkin bukan rezeki ku hari ini.Esok aku akan datang lagi…

***

“Lewat kau balik, Wan?” Hadi yang melihat sahabatnya itu terkial-kial membawa perkakas lukisan ditangan turun membantu.

“Hmm…ramai sangat pelanggan tadi. Tak menang tangan aku…” Ikhwan menghela nafas. Penat siang tadi masih belum hilang.

“Yeke? Alhamdulillah…murah rezeki kau, Wan.” Hisyam yang sedang leka menonton drama Impak Maksima, menyampuk.

“Alhamdulillah. Aku pun tak sangka di bandar besar macam ni masih ada rezeki menanti untuk orang macam aku ni.” Wajah Ikhwan berubah mendung.

Melihat akan perubahan di wajah sahabat mereka itu, Hadi dan Hisyam mendekati. Mereka tahu apa yang difikirkan Ikhwan itu.

“ Wan, dahlah tu. Sebagai hamba Allah, kau kena redha dengan Qada dan Qadha nya.” Hadi menepuk-nepuk bahu sasa sahabatnya sebagai tanda semangat. Hisyam disebelah mengangguk tanda mengiyakan.

Ikhwan seyum. Dia tahu Hadi dan Hisyam merupakan sahabat yang baik…di masa senang mahupun susah. Dia berasa sungguh bertuah dapat memiliki sahabat sebaik mereka.

“Aku tahu. Terima kasih Hadi…Syam.”

Ikhwan bangkit. Berlalu ke bilik. Badan harus dibersihkan dan diri ini pula memerlukan rehat secukupnya kerana esok masih banyak tugas yang menanti.

***

Masjid India, 10 pagi…

Sengaja aku datang ke sini lebih awal hari ini. Niatku bukan untuk membeli-belah tetapi memburui agenda yang tidak kesampaian semalam.

Dari jauh sudah kelihatan orang ramai sudah berpusu-pusu mengelilingi pelukis jalanan itu. .Hmm! Nampaknya ada lagi yang lebih awal dari aku. Cuma ia tidaklah seramai semalam. Mungkin hari masih awal.

Naluri ku kuat mengatakan lelaki ini pasti ada yang ‘istimewa’ tentangnya kerana semalam dia turut hadir dalam mimpiku. Walaupun begitu, wajahnya tidak jelas kelihatan. Sesungguhnya, kehadirannya mengundang misteri kepadaku. Siapa dia???

***

Masjid India, 10 malam…

Jam sudah menjengah ke angka 10 malam. Aku masih disini. Setia menati si dia. Hanya memerhati dari jauh. Tidak pernah aku membuat kerja segila ini!

Untuk mendekatinya terus serasa tidak sesuai kerana dia begitu sibuk melayan ‘pelanggan-pelanggannya.’ Oleh itu, aku membuat keputusan menantinya sehingga dia selesai melakukan ‘tugasnya’ untuk malam itu.

Sewaktu dia sedang leka mengemas perkakas lukisannya, aku terus menjalankan misi ku yang tertangguh kelmarin.

“Encik, boleh tolong lukiskan potret saya?” Aku pura-pura bertanya. Sengaja ingin mengumpanya bersembang denganku.

“Maaf, cik. Saya dah nak balik ni. Hari pun dah lewat. Cik datang esok saja ye.” Dia tidak memandangku. Tangannya tangkas mengemas tanpa mempedulikan kehadiranku. Ape…tak cantik ke aku ni?!

Dalam samar-samar cahaya itu aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Kacak! Matanya…keningnya… hidungnya…mulutnya… semuanya cantik terbentuk.

Aku bagaikan berada dalam duniaku sendiri. Terasa seperti jatuh cinta pandang pertama. Tetapi mengapa dia tidak memandangku? Seakan tersedar dari mimpi yang panjang, aku kembali ke alam nyata.

“Encik, tolonglah. Satu potret je.” Aku merayu lagi. Dengan harapan dapat mengenalnya dengan lebih dekat.

Panas hati ku ini apabila rayuanku sedikit pun tidak diendahkannya. Sudahlah aku menantinya dari pagi sehingga malam menjelma, boleh pula dia buat tidak tahu!

Tanpa aku sedar, aku merampas semua berus lukisan yang entah berapa batang ditangannya dengan kasar. Ke semua berus lukisan itu bertaburan jatuh ke tanah. Aku tergamam sendiri dengan sikapku yang tiba-tiba itu. Namun,dia dengan selamba tunduk mengutip berus-berus itu tanpa memarahiku langsung. Terdetik rasa bersalah dihati tapi….

Aku terperanjat apabila tangannya teraba-raba mencari dan mengutip berus-berus yang jatuh tadi. Aksinya seolah-olah dia tidak nampak di mana kedudukan berus lukisan tersebut. Aku terpaku memandangnya. Mungkin terasa diri diperhatikan, dia menghentikan perbuatannya.

“ Kenapa? Terkejut? Tak sangka?” Bertubi-tubi soalan dia ajukan padaku.

“Err…awak…” Belum sempat aku menghabiskan kata-kataku….

“Ya! Saya buta. Puas?” Aku terperanjat dengan kenyatan yang diberikan.

“Tapi…” Aku tidak mampu meneruskan kata-kata seterusnya.

“Kuasa Allah. Segala yang diberikan adalah kurniaanNya yang tak ternilai…” Dengan perlahan dia mengungkapkan kata-kata itu yang menusuk ke jantung hatiku.

Barulah kini ku tahu mengapa dia mendapat perhatian ramai. Dia melukis dengan mata hati. Walaupun buta, tapi setiap lukisannya seolah-olah dia nampak apa yang dilukis. Dalam diam, aku mengagumi dirinya.

***

Dua tahun kemudian…

“Ikhwan…Suri nak tanya cikit boleh?” Aku memberanikan diri bertanya.

“Hahaha..sejak bila pulak kalau Suri nak tanya, Ikhwan kenakan cukai? Tak ada kan? Tanya aje lah…” Dia ketawa. Seakan-akan satu jenaka pula padanya.

“Emm… kalau Wan dapat melihat semula, Wan nak kahwin dengan Suri tak?” Aku memandang tepat ke matanya. Matanya celik namun siapa sangka pemuda kacak ini tidak cukup satu pacaindera yang tak ternilai harganya..

Kali ini ketawanya semakin galak. Aku hanya membatukan diri.

“ Wan, Suri tak main-main…” Tanpa dipaksa, air mataku menitis. Dia bungkam.

“Suri, Suri sendiri tahu Wan ni macam mana. Wan tidak sesempurna orang lain. Wan tak layak bergandingan dengan Suri. Wan buuu…” Cepat-cepat aku meletakkan jari telunjuk ke mulutnya.

Sesungguhnya, aku tidak mahu perkataan akhir itu keluar dari mulutnya. Aku ikhlas menyayanginya. Dan aku yakin dialah jodoh yang telah tersurat oleh Allah kepadaku.

“Hmm…” Ikhwan mengeluh panjang.“Suri, seandainya Tuhan takdirkan Wan dapat melihat semula, Wan akan mengawini Suri. Ini janji Wan!” Ayat terakhirnya benar-benar menbuat hatiku berlagu riang.

Aku akan nantikan saat itu…

***

Suatu pagi…

“Hello, Suri.” Awal pagi itu aku mendapat panggilan dari Ikhwan.

“Wan, kenapa ni tiba-tiba aje call?” Biasanya dia tidak akan menelefonku seawal hari ini.

“Good news! Tak lama lagi Wan akan dapat melihat semula…” Suaranya kedengaran begitu ceria.

“ Betul ke ni?” Aku sungguh gembira dengan berita yang disampaikan Ikhwan. Dalam hati, aku mengucap syukur kehadratNya.

“ Iye, sayang. Minggu depan operation .” Dari suaranya, aku tahu dia sudah tidak sabar lagi melihat dunianya kembali.

***

Sebulan kemudian…

“Suri! Kenapa Suri cuba jauhkan diri dari Wan?” Walaupun hanya berbual melalui telefon, suaranya jelas kedengaran tegang.

Ya! Selepas Wan mendapat ‘mata barunya’, aku sudah tidak menghubunginya lagi mahupun berjumpa. Kali terakhir aku berjumpanya sehari sebelum dia diusung ke bilik pembedahan. Sengaja igin menatap wajah Ikhwan sepuas-puasnya.

“Suri…cakaplah. Kenapa diam? Suri tak suka Wan dapat melihat semula?” Aku diam. Tiada kata yang mampu ku ungkapan.

“ Suri..kalau Wan tahu akan jadi begini, Wan sanggup untuk tidak melihat selama-lamanya asalkan Suri tak jauhkan diri dari Wan.” Nada suara Ikhwan berubah kecewa.

Dihujung talian, hanya esak tangisku saja yang kedengaran. Bukan aku tidak mahu bertemu Ikhwan tapi ada rahsia yang harus ku sembunyikan dari pengetahuannya.

“ Wan nak tatap wajah ‘mata hati’ Wan ni. Dan… Wan nak kabulkan janji Wan dulu pada Suri. Kita jumpa, ok?” ‘Mata hati?’ Aku tersenyum mendengar perkataan yang disebut Ikhwan itu.

***

Aku setia menanti Ikhwan di tempat dimana dia pernah melukis dulu. Di sini jugalah tempat pertemuan pertama kami dulu. Sengaja aku datang lebih awal sebelumnya. Apakah reaksinya nanti apabila melihatku?

Ikhwan sampai tepat pada masanya. Sewaktu dia sampai ditempat yang dijanjikan bersama Suri, kelihatan seorang gadis buta turut berada di situ. Dia berasa serba salah samada mahu terus ke sana atau menanti saja Suri di tempatanya berdiri.

Jantung aku pula tiba-tiba saja berdegup kencang. Aku dapat merasakan seperti Ikhwan sudah berada dekat dengan diri ini.

Entah mengapa tiba-tiba saja kaki Ikhwan laju saja melangkah ke arah di mana gadis buta itu berada. Seolah-olah gadis itu menggamit Ikhwan datang kepadanya.

Dengan ringan mulut, Ikhwan menegur. “Err…maafkan saya Cik. Cik dah lama ke duduk dekat sini?” Sekilas dia memandang wajah gadis buta itu. Cantik! Sudah lama dia tidak melihat keindahan ciptaan Ilahi itu.

“Ikhwan??? Awak Ikhwan kan?” Ikhwan terkejut kerana gadis buta itu tahu namanya.

“Ya..saya Ikhwan tapi macam mana…” Belum sempat Ikhwan menghabiskan kata-katanya,gadis buta itu bersuara lagi.

“ Sebab saya Su..Suri…” Menggeletar aku menyebut namaku sendiri.

Adakah lelaki dihadapanku ini terkejut apabila mengetahui gadis buta yang dilihatnya itu adalah aku? Bagaimanakah reaksinya? Sayangnya aku tidak mampu melihat.

“Suri??? Betul ke awak ni Suri? Ikhwan tahu Suri dulu tak macam ni kan?” Agakkan ku tepat sekali. Ikhwan benar-benar terkejut.

Yang bermain-main di hatiku kini sanggupkah dia menerimaku seperti dulu? Sanggupkah dia menunaikan janjinya dulu padaku? Aku pasrah andainya dia tidak mampu menerimaku seperti dulu. Aku terima takdirNya andainya dia bukan untukku lagi.

“Ya Allah…Suri, kenapa Suri sanggup buat ini semua? Kenapa Suri?” Ikhwan memegang bahuku dengan kedua belah tangannya. Kuat!

“Sebab Suri sayangkan Ikhwan. Suri nak Wan tahu Suri sanggup berkorban apa saje demi cinta kita ni. Dan paling penting, Suri nak tengok Wan melihat semula. Walaupun Suri tak dapat melihatnya tapi Suri gembira.” Aku senyum.

“Suri nak tengok Wan melihat semula tapi Suri…” Suara Ikhwan kedengaran sedih. Benar-benar menyentuh naluri wanitaku ini. Aku terdengar satu esakan kecil dekat ditelingaku.

Tanganku meraba-raba wajah kacak milik Ikhwan. Walaupun aku tidak boleh melihat lagi tapi aku tahu dia tetap lelaki paling kacak yang menghuni hatiku ini. Wajahnya basah. Ya! Ikhwan menangis. Aku seperti tidak percaya air mata lelaki ini tumpah jua akhirnya. Tidak semena-mena, air mataku mengalir. Bukan kerana menyesal mendermakan mata milikku kepada putera hatiku ini tapi hatiku benar-benar terkilan kerana telah menyebabkan air mata lelakinya tumpah.

“ Suri, Suri tahu tak pancaindera yang satu ini penting sangat? Suri tahu tak betapa besarnya pengorbanan yang Suri dah buat ni?” Ikhwan menyeka air mataku. Mata-mata yang melihat langsung tidak dipedulikan.

“Suri tak perlukan lagi…” Pendek aku menjawab.

“ Tapi kenapa?” Suara Ikhwan kedengaran terkejut.

“Sebab… Ikhwan mata hati Suri. Suri boleh melihat dan merasa getaran melaluinya” Aku senyum lagi.

Perlahan-lahan aku merasakan pegangan tangan Ikhwan semakin kejap pada tanganku. Terasa diri ini teramat dekat dengan dirinya.

“Suri..” Ikhwan memalingkan tubuhku mengadapnya.

“Sudikah Suri menjadi permaisuri hidup Wan? Bukan untuk seketika tapi untuk selamanya…” Kata-katanya lembut menusuk terus ke jantungku.

Aku tersenyum dan mengangguk setuju. Itulah satu-satunya ayat keramat yang aku tunggu-tunggu selama ini.

Terima kasih Tuhan kerana menemukan diriku dengan lelaki ini. Aku yakin dialah jodohku kerana Kaulah mata hatiku. Selama-lamanya…


cerpen cinta : Cinta terlarang

“Kalau memang mungkin, saya pasti sudah ambil kamu untuk jadi istriku Wi....”, kata Bang Farhan kepadaku suatu hari ketika kami sedang duduk di sebuah cafĂ© yang lokasinya agak jauh dari kantor tempat kami bekerja.

“Tapi itu tidak mungkin, sangat mustahil kalau harus saya merebut kamu dari ikatan keluargamu, dari suamimu...” lanjutnya dengan suara pelan sambil memandang tajam ke arahku. Kutarik nafas panjang mengusir beban yang hadir di dadaku, terasa sesak dan sangat berat sekali.

“Dewi, keterlibatan hati kita memang sudah terlampau jauh, sulit rasanya buat saya untuk berpikir secara logis, tapi ini adalah sebuah cinta terlarang, itu harus kita sadari. Seandainya saja saya egois, saya tidak memikirkanmu, tidak mempedulikanmu, dan hanya memikirkan diri saya sendiri, akan lebih mudah buat saya dalam mengambil keputusan, saya bebas....., saya seorang duda yang tidak punya tanggungan, yang pastinya akan bisa dengan mudah merebut kamu dari keluargamu. Tapi...., saya terlalu sayang padamu Wi, tidak mungkin saya lakukan semua itu hanya untuk memuaskan ego saya...., tidak akan pernah! Saya selalu menginginkan kamu bahagia, itu sudah cukup bagi saya,”
“Tapi...., dimana kebahagiaan itu Bang....? Aku hanya bisa merasakan kebahagian yang nyata bila bersamamu.” sahutku putus asa.
“Tidak sayang, kebahagiaan yang kamu cari itu sebetulnya ada pada keluargamu, suami dan anakmu, hanya saja pintunya masih belum benar-benar terbuka lebar,” Bang Farhan terdiam sebentar, kemudian melanjutkan, “Bukalah! Itu adalah tugasmu, raih apa yang ada di dalam ruang itu, dan saya yakin bahwa kamu bisa melakukannya, dengan cinta tentunya...., karena saya sadar bahwa cintamu itu sebenarnya memang milik Dedi, suamimu...”
“Apakah hanya dengan cinta aku bisa mendapatkan Mas Dedi seutuhnya ?” tanyaku bimbang.

“Dengan cinta, ketulusan, kesabaran dan keikhlasan! Dan kamu harus lebih percaya diri, kamu buktikan pada dia bahwa kamu bisa menjadi seorang istri yang dapat dibanggakan dan dihormatinya.” jawabnya dengan senyum yang menenang terukir diwajahnya.
Aku memang selalu merasa nyaman berada didekatnya, selalu saja dapat menghiburku tatkala hatiku sedang gundah, selalu mau meminjamkan bahunya untukku agar aku bisa bersandar ketika aku sangat terlalu lelah menghadapi dilemma dalam kehidupanku, dan selalu bersedia menghapuskan air mataku saat gelombang dalam hatiku tidak dapat tertahan akibat dasyatnya angin yang menerpa. Dia selalu saja hadir ketika aku membutuhkannya, aku sangat bergantung kepadanya, tanpa terasa makin hari rasa ketergantunganku terhadapnya makin bertambah, dan..... ketika suatu hari dia mulai berbicara mengenai seorang wanita yang mungkin akan menjadi pilihan akhirnya, sejak kesendiriannya setelah ditinggal mati istrinya 3 tahun yang lalu, aku demikian merasa sangat terpukul dan kecewa, namun saat itupun aku sadar, komitmen awal kami bersama adalah hanya sebagai sahabat, dalam suka dan duka, saling berbagi dan saling mengisi. Ya....., saat itu aku mencoba untuk dapat menerima, meskipun ada sebongkah kecemburuan di dalam dadaku, dan aku berusaha untuk menampiknya.
***
Mas Dedi, suamiku, adalah seorang lelaki pilihan orangtuaku, pilihanku juga, karena aku sudah jatuh cinta pada pertama kali bertemu dengannya dan dengan optimis aku segera mengangguk setuju ketika orangtuaku dan orangtuanya yang sekarang menjadi mertuaku menanyakan persetujuanku tentang rencana mereka untuk menjodohkanku dengan Mas Dedi, tanpa aku berpikir panjang dan tanpa kutahu sosok seperti apa sebenarnya Mas Dedi, suamiku.
Berbeda denganku, yang penuh dengan rasa cinta, Mas Dedi memutuskan untuk setuju menikah denganku hanya karena saat itu hatinya dendam akibat ditinggal pergi kekasihnya menikah dengan orang lain, dan alasan itu baru kutahu ketika perkawinan kami sudah berjalan 6 bulan dengan usia kandunganku berjalan 2 bulan. Ya..., Mas Dedi menikah denganku tanpa cinta! Hanya pelarian.....! Rasa kecewa yang mendalam terasa sangat membekas dihatiku, tapi aku selalu menjadi seorang yang tegar dan penuh pengertian di depannya, saat dia menceritakan semua itu kepadaku dan meminta ijinku untuk tetap bisa bertemu dengan mantan kekasihnya itu, yang belakangan baru kutahu bahwa dia sudah bercerai dari suaminya.
Kuhapus semua pikiran-pikiran negative yang hadir di otakku, agar aku bisa melihat semuanya dengan jelas dan transparan, namun semuanya tertutup, hari demi hari kulewati dengan rasa gundah, dan satu kesalahanku yang sangat fatal adalah aku seorang istri yang sangat mencintai dan mengagungkannya sehingga tidak bisa berkata tidak dan selalu setuju dengan apa saja yang dikatakan dan dilakukannya, meskipun hatiku harus bercucuran darah menahan semua rasa sakit yang dihadirkannya.
Pernah suatu pagi di hari Minggu, ketika kami sedang berkemas hendak rekreasi membawa Nanda, anak kami, ke Taman Safari, tiba-tiba saja aku melihat dari dalam rumah, seorang wanita muda yang cantik turun dari mobil Honda Jazz berwarna merah terang menghampiri Mas Dedi yang sedang memanaskan mobil di carport. Ya.... wanita itu adalah Rossa, mantan kekasih Mas Dedi, yang pernah aku lihat beberapa fotonya di album foto dalam laptop suamiku. Aku memejamkan mataku menahan rasa ngilu seperti teriris yang tiba-tiba hadir didadaku, entah mau apa dia datang ke sini...?
Dengan rasa kecewa dan sakit karena merasa dikalahkan, aku tetap saja tersenyum, berusaha maklum dan memahami ketika Mas Dedi dengan tegas memanggil Deni adiknya untuk menggantikannya mengantarkan aku dan Nanda rekreasi ke Taman Safari pada hari itu karena dia mendadak harus menemani Rossa ke Bandung menjenguk ibunya yang sedang sakit. Dan dengan sedikit memperlihatkan rasa bersalah dia memintaku untuk bisa mengerti akan keadaannya. Ingin rasanya membatalkan saja rencana hari itu, tapi keinginan itu aku tahan karena aku tidak tega menghancurkan binar-binar kebahagiaan di mata Nanda, anakku.

Sungguh, kejadian demi kejadian berlalu begitu saja, dan aku tetap tidak bisa menjadi diriku sendiri jika berhadapan dengan suamiku, tidak ada kepercayaan dalam diriku terhadap diriku sendiri, sangat sulit sekali membangun itu semua, sampai suatu hari di kantor tempat aku bekerja, datang seorang manager baru bagian marketing menggantikan boss ku yang di mutasi ke luar daerah. Bang Farhan, seorang duda, cukup ganteng menurutku, berwibawa dan punya kharisma, sepintas aku melihat sosok Mas Bagus, kakakku almarhum dalam dirinya, itu yang membuatku merasa sangat dekat dengannya.
Kedekatanku dengan Bang Farhan memang membawa hawa segar pada diriku, karena dia selalu saja dapat menutupi apapun yang tidak dapat dilakukan oleh Mas Dedi, suamiku.
Aku bisa menjadi diriku bersamanya, aku bisa bercerita, aku bisa mengekspresikan diri, dan aku bisa marah kepadanya, ya... aku bisa menjadi diriku seutuhnya bersama Bang Farhan.
Sekarang, disaat aku merasa diriku melambung karena diakui keberadaanku, saat aku merasa sangat bahagia sekali karena ada orang yang secara total menyayangiku, menghargaiku dan menghormatiku, saat aku merasa aman dan nyaman karena ada orang yang melindungiku, yang menolongku, dan saat aku merasa bahwa aku ini hidup, karena ada orang yang mau mendengarkanku, mengharapkan kehadiranku dan membutuhkanku....., ternyata hancur begitu saja ketika Mas Farhan mulai menyinggung masalah masa depan. Masa depan ku dan dia...., dia sangat menginginkan aku bahagia, meskipun dengan menggadaikan kebahagiaanya sendiri. Dan dia tidak rela sesuatu terjadi padaku, dia menginginkan kehidupan keluargaku berjalan normal...

“Dewi, dengan adanya kamu sekarang, cobalah bersikap realistis terhadap suamimu, kalau kamu tidak suka kamu bisa utarakan, sehingga dia bisa tahu...., tapi kalau kamu tetap saja diam dan seolah setuju, selalu menunjukan kepatuhanmu padahal bertentangan dengan nuranimu, diapun akan tetap beranggapan dia betul dan tidak bermasalah terhadapmu. Sementara hatimu sangat sakit, karena pertentangan itu. Sibakkanlah pintu itu Wi, kamu tengok ke dalam, ada banyak kebahagiaan menunggu jamahan tanganmu, percayalah.....!” kata Bang Farhan membuyarkan lamunanku.

“Bang...., apakah cinta lain tidak boleh lagi hadir saat kita sudah terikat....? Aku merasa cinta lain itu sudah ada didalam hatiku Bang ”
Kulihat Mas Farhan tersenyum sedih, lalu menggelengkan kepalanya, “Karena itu akan sangat mengganggu, dan menyakitkan Dewi, menyakitkan bagi kita dan juga orang lain yang terlibat. Memang semestinya dari awal kita menyadarinya sebelum cinta seperti itu hadir dalam diri kita, tapi apa boleh buat, kita tidak kuasa menahannya, dan tanpa kita sadari dia sudah berkembang sangat cepat dalam hati kita, sehingga harus ada keputusan yang jelas, agar tidak berlarut-larut, kamu setujukan dengan apa yang saya katakan...?”

Aku menarik napas panjang kembali, lalu diam terpengkur, mencoba berpikir lebih real lagi, karena mungkin aku terlalu disibuki oleh perasaan-perasaan tertekanku terhadap Mas Dedi. Dan tiba-tiba saja aku mengangguk dan sekali lagi aku optimis, percis sama ketika aku menyetujui untuk menikah dengan Mas Dedi dulu.

Ya...., hidup adalah pertanggungjawaban dan perjuangan, aku harus berani menghadapi semua akibat atas keputusan yang aku ambil saat itu, aku harus berani menghadapi Mas Dedi sebagai suamiku, teman hidupku sekaligus sebagai ayah dari anakku. Dan aku akan berusaha menjadi apa adanya diriku.

“Okey Bang, mungkin memang sudah saatnya aku harus kembali, menata dari awal kehidupanku, bersama suami dan anakku......, tapi Bang Farhan juga harus bahagia, segeralah putuskan sesuatu yang Abang anggap baik, aku tidak akan bisa melihatmu hidup seperti ini, menyendiri dan jauh dari saudara, saya pikir Mbak Eka bisa mulai Abang perhitungkan, karena saya tahu dia benar-benar mencintaimu Bang...., sangatlah bahagia menjadi orang yang dicintai dibanding dengan hanya mencintai.” Kataku sambil tersenyum pasrah, seraya mengaduk juice sirsak yang ada didepanku, kulirik dia dan kulihat pandangan matanya yang sangat tidak jelas maknanya, seperti ada luka yang dalam tergambar di sana, mata yang menatapku tajam.
“Dicintai dan mencintai, itulah kunci kebahagiaan Dewi...., jadi kamu juga harus berusaha membuat suamimu jatuh cinta padamu, dan saya yakin kamu bisa melakukannya.”
“Aku hanya akan berusaha Mas, karena cinta tidak bisa dipaksakan.”
“Memang, tapi kita akan bisa belajar untuk mencintai, segeralah ajari dia, seperti kamu mengajari arti cinta itu kepada saya.” Lalu Bang Farhan mengambil tanganku dan digenggamnya erat sekali.

“Aku jatuh cinta kepadamu, Dewi....., sebuah cinta yang terlarang, cinta yang akan aku simpan dalam ruang hati yang paling dalam....”
“Terimakasih telah mencintaiku Bang, dan akupun akan menyimpan semua kenangan bersamamu dalam sudut hatiku, yang tidak akan pernah terjamah siapapun.”
Kamipun sama-sama tersenyum, meskipun berat pengambilan keputusan itu, namun semuanya sudah ditetapkan dan kami akan berusaha keras untuk berpegang teguh pada pilihan keputusan itu. Tentu saja tidak mudah, tetapi kami harus menghadapinya....., karena tidak ada yang mudah di dunia ini bukan...?
Aku memiliki hari esok dan hari berikutnya lagi...., ternyata masih panjang perjalanan yang harus kutempuh. Hidup memang berbeda dengan impian, sehingga dibutuhkan tekat yang kuat untuk memperkokoh niat yang sudah ditetapkan.
“Betapapun sulitnya aku mendapatkan cinta itu Bang, aku akan tetap kuat dan terus tersenyum, karena aku tahu bahwa cinta yang indah itu sedang bersembunyi dibalik kesulitan yang mungkin belum terlihat olehku. Aku janji padamu, tak akan aku kecewakan dirimu, aku pasti akan bisa menemukan kebahagian itu.....” janjiku padanya, ketika dia melepaskanku di depan pagar rumah, mengantarkan aku pulang, yang kemudian disambut oleh teriakan sayang Nanda, anakku, .....”Mamaaaaaaa.........”
Bagaikan tersiram air yang sangat dingin sekali, sejuk terasa sampai kedalam hatiku..... Ya....kebahagiaanku memang ada disini, di rumahku, bersama suami dan anakku.
Terimakasih Tuhan! Telah Kau bawa kembali hati nuraniku ke sini.